Archive for January, 2008

renungan

Sunday, January 13th, 2008

kata orang, "air mata tobat bisa menyelamatkan kita dari siksa api neraka"

so, kapan terakhir kamu menangisi dosa-dosamu?

merenung, salah satu hobiku. sekedar untuk mencoba "keluar" dari diriku dan melihat siapa aku.

selalu malu aku dibuatnya. tak kuat aku melihat "refleksi" itu. betapa buruk segala perilaku ini. ampun…….!

sejuta pesona indonesia

Sunday, January 13th, 2008

ada yang bilang indonesia itu surganya dunia. jadi penduduk dunia wajib kesini untuk 1442642be8a1c5002dmerasakan indahnya surga. ok.

Allahu Akbar

Thursday, January 10th, 2008

“Allahu Akbar”

Pagi ini aku di ajak mas Alfin untuk datang ke acara “karnaval” penyambutan tahun baru Islam. Disana banyak sekali aktivis islam yang berkumpul. Intinya mereka menginginkan tahun baru = semangat baru = dunia baru. Bukan kebobrokkan yang selama ini ada.

Tiap orang disana dengan semangatnya memekikkan kata “Allahu Akbar”. Sungguh hati ini bergetar tak karuan, teringat aku akan dosa-dosaku. Ough, tak perlu jauh-jauh mengubah dunia, mengubah diriku saja aku tidak bisa. So?

Takbir itu semakin keras terdengar seiring terik matahari yang membakar kulit dan kepala. Maka tiap kalimat takbir itu selalu “menamparku”. Tidak sekali aku mendengar kalimat itu, tapi tiap kali mendengarnya selalu merinding hati ini. Betapa kecilnya aku di hadapnya.

pelajaran sang Ayah

Thursday, January 10th, 2008

Pelajaran berharga seorang Ayah

Dulu sebelum tidur, ayah selalu memberiku cerita dongeng yang berisikan pelajaran hidup.

Ada

beberapa hal yang aku masih ingat sampai sekarang, yakni:

·        Kalau bekerja jangan sampai kena matahari.

Jauh setelah dia meninggal, aku baru menyadari bahwa kalau bekerja itu dari pagi sampai malam. Sebelum matahari terbit, hingga sesudah matahari tenggelam

·        Keraslah terhadap kehidupan, maka kehidupan akan lunak

·        Anak laki, kalau siang jangan ada di rumah.

aku juga baru tahu kalau anak laki itu harus kuat. Jangan santai-santai saja. Segera cari ilmu, cari kerja, cari pengalaman.

·        Tidur yang di ridhoi Allah adalah tidur karena kecapekan

Thanks dad, I’m so proud of had a father like you. Wish to see you at heaven. Luvu always.

“tidak” tidak berarti selamanya “tidak”

Tuesday, January 1st, 2008

"tidak" tidak berarti selamanya "tidak"

yup kata ini sungguh sangat merasuk dalam jiwaku. aku sungguh tidak percaya akan keajaiban kata-kata ini. awal kali aku mendengarnya dari temanku. aku pikir ini hanyalah sekumpulan kata-kata biasa. namun sejauh aku hidup ,aku pun menyadari betapa hebat kata-kata ini.

***

alkisah, ada seorang bapak yang sedang menggali tanah di depan pekarangan rumahnya.

tak lama kemudian ada seorang anak kecil, perempuan. bajunya yang compang-camping cukup mewakili kalo si gadis kecil itu seorang pengemis cilik.

"pak, minta uang buat berobat ibuku" kata sang anak.

bapak itu diam tak menghiraukan si anak. tangan yang dijulurkannya seolah-olah mewakili mulutnya yang ingin berkata "tidak".

gadis itu masih disana. demi melihat anak itu masih berdiri, bapak itu berkata "ga ada uang kecil dik".

"tapi ibuku butuh obat pak" si gadis menjawabnya

bapak itu melanjutkan pekerjaannya.

si gadis kecil masih di sana.

si bapak masih menggali. ketika membalikkan badannya, ia melihat si anak masih berdiri disana, dan bapak itu berkata lagi, "dik, aku masih sibuk"

"ibuku butuh obat pak"

lagi-lagi si bapak tidak memperhatikan si anak. dia tetap melanjutkan pekerjaannya. sesekali tubuh mungil si gadis itu di tabraknya sekedar bahasa visual bahwa bapak itu menolaknya.

si gadis masih bertahan. selang berapa lama disana, si gadis tak kuasa menahan tangis. si gadis kecil itu teringat akan ibunya yang sedang berbaring di alas tidur di rumahnya. tangisannya lalu semakin keras.

sepertinya tangisan itu mengusik hati si bapak. ia lalu menggerogoh kantung celananya. tak ditemukannya uang kecil, dan ia pun memberikan uang yang ada pada saat itu. selembar uang kertas pun ia berikan pada si gadis.

uang itu bernilai cukup besar, sehingga demi melihatnya, si gadis itu tak karuan senangnya. ia kegirangan, dan langsung mengucapkan "terima kasih" pada bapak sambil memeluknya.

si bapak pun merasakan betapa besar rasa terima kasih si anak dan mengikhlaskan uang itu. sepertinya si anak betul-betul membutuhkannya, pikirnya.

*****

sohib, keteguhan hati, ketegaran, dan ke pantang menyerahan si gadis kecil itu telah memenangkan kekerasan hati si bapak. bagaimana dengan kita? apakah kita bersedia untuk berjanji untuk mengatakan ("tidak" tidak selamanya berarti "tidak") ?

mungkin orang-2 akan mengatakan bahwakita keras kepala atau apalah, tapi sungguh kita harus bisa membedakan antara "keras kepala" dengan "keteguhan hati".

sukses!!!