Si Arif 2
Arif, bertemu orang baik hati
Sebelum membaca artikel ini, aku berharap anda semua sudah membaca artikel 1 tentang si Arif. Disana menceritakan kisah awal Arif memulai perjalanannya meraih impiannya.
Arif kembali lagi dengan kisah yang seru. Di artikel pertama, kita bisa melihat wajah si Arif yang boleh dibilang kumus-kumus, hitam, tak terawat, apalagi jika anda mengenalnya secara langsung, susunan berbahasanya cukup kacau, tidak teratur. Sepintas, kita mungkin bisa menyimpulkan kalau dia ini seorang pencuri kecil. Ya, ini bukan pikiran kita saja, sebagian besar orang juga berpikir seperti itu. Berandalan kecil yang memakai seragam sekolah.
Pernah suatu pagi, seperti biasanya, ia berangkat dari rumahnya pukul 3.30 pagi. Berjalan kaki menuju jalan gembong untuk mencari lyn R. Ketika itu baru sampai di jalan semarang, ia mencoba menoleh-noleh ke belakang sambil berharap ada orang baik hati yang mau memberi tumpangan.
Harapan itu pun terwujud. Tiba-tiba saja ada seorang yang datang dari belakang naik motor. ”mau kemana dik?” tanya bapak separuh baya itu.
”mau ke kalianyar pak” jawab Arif.
Orang baik hati itu pun mengantarkannya sampai ke kalianyar. Sebelum berpisah si orang baik hati ini mengambil dompetnya, mengambil secarik kertas 20 ribuan dan diberikannya pada si Arif. ”kamu kalau butuh apa-apa hubungi bapak ya. Ga perlu mencuri. Ini no telpon bapak” kata bapak baik hati itu. Aku lupa namanya, kalau tidak salah pak Warno.
Arif senang bukan kepalang. Benar-benar ia tidak menduga, hari itu adalah hari keberuntungannya, walaupun ia tidak menyadari bahwa si bapak baik hati itu (mungkin) menduga kalau ia adalah seorang pencuri. Bagi ia, tak peduli apa kata orang, yang penting ia tidak melakukan hal negatif ia akan jalan terus, dan yang lebih penting lagi 20 ribu men!!!. Bisa ga bayangin betapa baginya uang segitu sangat besar artinya.
Dengan semangat menggebu-gebu, ia menceritakan kejadian itu padaku. Aku pun lalu tertawa, walaupun dalam hatiku menangis, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat penampilan fisikmu memang demikian adanya. ”kamu sudah mengucapkan terima kasih ke dia?” tanyaku. Memang, 3 kata yang kami tanamkan ke mereka, bahwa ini harus sering kita ucapkan dalam pergaulan kita sehari-hari, yakni ”terima kasih, tolong, dan maaf”.
”belum mas”, katanya
Aku segera menyuruhnya untuk menelpon bapak itu. Ia lalu mengangkat ganggang telepon, menekan nomor yang ada di sobekan kertas itu.
Sepertinya langsung menyambung. ”pak, saya Arif, rumah bapak dimana?” katanya dengan suara yang agak keras. Sepertinya orang di balik telepon itu tidak menanggapinya dengan baik, lalu arif pin bicara lebih keras lagi ”ya, rumah bapak dimana? Rumah bapak itu dimana?”
Aduh Arif kok seperti itu sih ngomongnya……
Aku terlupa sesuatu kalau gaya bicaranya masih kacau dan belum tersusun dengan rapi. Aku bisa membayangkan apa yang ada di pikiran bapak itu. Satu hal, aku yakin bapak itu takut dengan gelagak Arif yang tiba-tiba telepon menanyakan alamat rumah. Aku mendiktenya dengan pelan, ”te….ri…ma kasih pak” kataku sambil memoncongkan bibirku biar terlihat jelas apa yang aku katakan.
Arif lalu mengatakannya ”terima kasih pak”.
”oya, begini aja rif, rumah kamu dimana?” tanya bapak itu, dan arif segera menjawab dimana rumahnya.
Oh Tuhan maafkan aku, semoga ini bisa menjadi pelajaran baginya. Aku pun lalu mengajarinya cara yang benar mengucapkan terima kasih itu. Jelas saja ia tidak mau memberi alamatnya, karena kamu bicaranya seperti itu rif. Kamu harus bisa lebih halus lagi. Kami semua tertawa mendengar Arif telepon tadi……
Waktu pun berlalu, saat ini Arif menunjukkan progresnya dalam bertutur kata. Satu hal yang aku senang darinya adalah, ia cepat sekali belajar. Ia menerapkan segala apa yang kami ajari. Setiap progres yang ia tunjukkan adalah bukti kesungguhannya dalam beljar dan menapaki tiap langkah perjalannya meraih impian.
Hari ini apa yang kita pelajari dari seorang arif?. Sobat aku ingin komentar`dari kalian, kira-kira pelajaran apa yang bisa kita petik dari sini. Masih banyak lagi kisahnya yang dramatis dan dinamis (naik turun). Aku pikir, aneh sekali anak ini, hidupnya tidak stabil, ada saja kejadian-kejadian yang menimpanya. Untuk itu, nantikan kisah arif berikutnya.