kedai motivasi 2
Belajar semangat dari sang Arif
Arif Wijaya namanya. Dia biasa dipanggil Arif. Dia adalah salah satu muridku di program pembinaanku- Aulia. Awalnya tak pernah kusangka aku bakal mendapatkan “bintang” seperti dia. Berawal dari tes interview yang kami jalani di salah satu sekolah SMP negeri di surabaya. Kami hanya ingin mendapatkan anak-anak yang pas untuk di bina. Rumahnya yang berjarak jauh sekali dari sekretariat (rumah bina) kami adalah hal yang kami utarakan di awal.
Aku bilang padanya ”rif, bukan kami tidak mau menerima kamu, tapi tempat ini jauh sekali. Kamu nanti capek lho.” Dengan penuh pengharapan ia menjawab, ”ga papa mas, aku Cuma ingin bisa bahasa inggris”, ”kenapa?” tanyaku. Ia pun mulai menceritakan bahwa saat itu mengikuti sebuah ajang pemilihan murid teladan di daerahnya, namun harus menerima kekalahan hanya karena tidak bisa berbahasa inggris.
”apa cita-citamu?” ”aku ingin menjadi nahkoda mas” jawabnya dengan lantang dan tanpa berpikir panjang. ”kenapa?” aku melanjutkan bertanya sekedar melihat keseriusannya. ”aku ingin mengajak ibuku keliling dunia”. Masya Allah sebuah jawaban yang sangat mengiris hati.
Aku mulai menanyakan tentang latar belakang keluarganya. Dia adalah anak seorang satpam yang kini bapaknya tak lagi ada didunia ini. Ibunya hanya seorang pembantu rumah tangga yang bergaji tak lebih dari 150 ribu rupiah perbulannya. Tiap sore atau malam hari ibunya berjualan martabak didepan rumahnya sekedar untuk menambah penghasilan.
Ia tinggal di sebuah gubuk tua di daerah kedungdoro surabaya. Sebuah rumah yang tidak pantas di sebut rumah. Hanya tinggal menunggu tiupan angin sebentar, wuuus, lalu robohlah rumah itu. Sebagai anak yatim yang membutuhkan kasih sayang, terkadang ia sering menjahili temannya. Tak kurang-kurang gurunya menasehati ia agar tidak jahil lagi ke temannya. Ketika sang guru menyuruh ibunya datang ke sekolahan, sang guru juga harus memberi uang angkutan untuk ibunya karena memang tidak ada duit.
Aku, sebagai interviewer terus mengejarnya dengan pertanyaan yang menjatuhkan dia sekedar untuk meyakinkan diri bahwa dia benar-benar serius untuk di bina. Dan tiap jawaban yang ia berikan selalu meyakinkanku, seolah-olah berkata ”mas, kamu tidak akan pernah rugi untuk menerimaku”. Semangat itu dengan cepat merasuk dalam kalbuku.
Pikiranku menerawang jauh beberapa tahun yang lalu, ketika aku SMP. Betapa aku berjuang melawan ”ketiadaan” hanya untuk sekedar melanjutkan sekolah. Aku memang orang lemah, orang tuaku pun tidak mampu. Namun satu senjata yang sangat kuandalkan yakni SEMANGAT. Itu saja yang kupunya, hingga saat ini aku telah membuktikan aku bisa sekolah hingga jenjang perguruan tinggi tanpa modal apa-apa selain semangat.
Yup, anak inilah aku cari. Oke Arif, melihat semangatmu yang menggelora aku menjadi bersemangat untuk berkomitmen bahwa aku akan membinamu, mendampingimu, mengantarkanmu hingga tercapai semua tujuanmu, cita-cita yang kamu inginkan.
Hari pertama berkumpul
Saat itu kami mengadakan briefing awal. Tepatnya hari sabtu. Semua murid-2 berkumpul dan diantar oleh orang tuanya, kecuali sang Arif. Ya, aku jadi teringat kata gurunya.
Kami menceritakan tentang visi dan misi kami, program-program kami, dll. Alhamdulillah semua orang tua setuju. Belajar, atau les dimulai pukul 5.30 pagi.
Alasannya:
suasana jalan masih belum rame, sehingga bisa aman melatih anak-anak untuk bangun pagi, sholat shubuh dan tidak tidur lagi usai sholat.
otak manusia masih dalam keadaan fresh
kebetulan mereka masuk sekolah siang hari, sehingga ketika les dimulai pukul 530, berakhir pukul 730, mereka masih memiliki waktu yang cukup untuk pulang terlebih dulu kerumahnya.
Suasana belajar dimulai dengan mengaji Al Quran terlebih dulu selama setengah jam. Jadi mereka membawa Al Quran sendiri-sendiri. Acara ngaji di pandu oleh mas Burhan, Desain produk 2003, dan Ririn, Desain Produk 2007.
Di hari pertama itu, Arif pulang yang paling akhir, sambil menunggu waktu untuk ekskul karate, katanya. Dia tadi naik sepeda pancal yang setelah kuselidiki, ternyata, sepeda itu adalah milik orang tambal ban di jalan. Ceritanya, sepedanya rusak. Rantainya putus. Lalu ia coba serviskan disana. Karena ia takut datang terlambat, ia lalu pinjam sepeda si tukang tambal ban. Aku tidak tahu bagaimana ia meyakinkan orang itu. Lalu aku bertanya, apa ia memiliki uang untuk servis. Dan, ia pun tidak punya. Hmpfgh, anak ini sungguh nekad. Satu lagi ia buktikan kalau ia benar-benar bersemangat. Dan kami beri ia sejumlah uang agar sepedanya bisa pulih lagi.
Hari kedua berkumpul (hari pertama les)
Waktu masih pagi, sekitar pukul 5 pagi. Aku baru saja membuka pintu, jendela dan gorden rumah Kalijudan agar sang malaikat pemberi rizki sudi mampir ke rumah bina kami. Mas Burhan hendak datang ke satpam untuk meminta ijin pelaksanaan les. Si satpam bilang, tadi ada anak yang mengaku mau ke rumah. Mas burhan tidak tahu wajah si Arif. Lalu ia melihat ada satu sosok anak kecil di pinggir rumah. Ya, itulah si Arif.
Dia sengaja tidak masuk dulu karena ia tidak menjumpai teman-temannya disana. Malu, katanya. Aku persilahkan ia masuk. Ia belum sholat shubuh dan belum juga sarapan. Aku lalu menyuruhnya segera sholat shubuh. Kulihat seluruh tubuhnya, ternyata ia tidak memakai celana panjang. Di rumah juga tidak ada sarung. Alhasil, aku menyuruhnya memakai sprei sebagai pengganti sarung.
Foto Arif sedang memakai sprei kuning
Aku bertanya tentang sepedanya yang rusak. ”malah tambah rusak mas…..” katanya. ”Lalu kamu kesini naik apa?”, ” jalan kaki” jawabnya dengan lantang.
Sumpah aku tidak percaya, jarak kedungdoro ke puri kalijudan sangat jauh.
Aku bertanya lagi kesungguhannya. ”nggak sih mas. Aku jalan dari kedungdoro ke gembong lalu naik lyn R. Lalu aku turun di pertigaan kenjeran. Dan jalan kaki lagi sampai kalijudan”. Sungguhpun kamu naik lyn itu, tapi perjalanan kakimu itu sudah sangat jauh Rif, kataku dalam hati.
”kamu berangkat dari rumahmua jam berapa?” ”jam setengah 4” katanya.
Sohib, sungguh aku menulis ini sambil meneteskan air mataku. Tak kuat aku menahannya. Aku malu melihat semangatnya yang membara itu. Kenapa hanya dengan masalah yang kelihatannya enteng sekalipun, terkadang aku harus mundur dari masalah itu.
Bagi Arif, jarak jauh itu bukanlah sebuah masalah. Cita-citanya terlalu mahal untuk sekedar menyerah gara-gara transportasi. Ia berpikir bahwa Allah telah menciptakan kendaraan yang paling canggih yang tak pernah bisa dibuat oleh manusia sepintar apapun dia, yakni KEDUA KAKINYA.
Sohib, ayo sama-sama kita membayangkan betapa paginya pukul setengah 4 itu. Kita mungkin masih memeluk guling, atau menarik selimut, tapi bagi ia, ini adalah perjalanannya meraih sebuah impian. Sebuah harga yang harus dibayar didepan. Sepertinya ia paham sekali bahwa di dunia ini berlaku hukum ”bayar sekarang, main kemudian, atau main sekarang, bayar kemudian”.
Aku pun meneteskan kembali airmataku melihat tertawa lepasnya di foto atas. Tertawa lepas dari seorang anak yatim. Ya Allah beri aku kekuatan agar aku bisa menyelamatkan lebih banyak lagi senyum itu, tawa itu. Lagi-lagi Arif telah membuktikan bahwa tak rugi aku telah memilihnya. Arif, cita-citamu sangat dekat. Aku akan selalu disampingmu. Itu janjiku padamu. Akan aku bantu kamu untuk mewujudkan impianmu. Tak ada sesuatu didunia ini yang tidak bisa dibeli dengan semangat. SEMANGAT adalah mata uang dunia yang tak kenal ruang dan waktu.
Sohib, aku ingin terus bercerita tentang si Arif kecil yang begitu bersemangat, bahkan ketika ia harus bertemu seorang penjahat. Dan terkadang ia bertemu orang yang baik hati. Nantikan kisah Arif yang begitu menginspirasi ini. Jika anda belum merasakan SPIRIT seorang pejuang impian disini, itu bukan karena kisahnya yang tidak bisa menginspirasi anda, tetapi karena kebodohanku dan kekuranganku dalam menulis. Untuk itu aku ingin mengundang anda semua untuk mengenalnya secara dekat dengan datang ke rumah bina kami.
December 25th, 2007 at 4:57 am
Luar biasa…
Salute…