Archive for December, 2007

gunakan otak!!!

Wednesday, December 26th, 2007

Hukum tarik menarik (law of Attraction)

Sohib, pernahkah engkau menginginkan sesuatu, sangat menginginkannya sehingga tiap hari, tiap saat kamu terus memikirkan tentang keinginanmu itu? Keinginan itu sangat besar dan sangat penting bagi hidupmu sehingga kamu tidak akan pernah membiarkan seseorang, siapapun didunia ini untuk “mencuri” keinginanmu itu, mempengaruhimu untuk melepas keinginan itu.

Keinginan itu bermacam-macam, bisa berbentuk sebuah benda, seperti rumah, mobil, motor, dll, bisa berupa kasih sayang, perjumpaan dengan sahabat lama, dan lain-lain. Setiap saat kamu memikirkannya, hingga suatu saat secara tiba-tiba ataupun disangaja, keinginanmu itu terwujud. Lalu kamu pun membenarkan istilah “pucuk di cinta ulam tiba”

Aku pernah punya sahabat yang sangat dekat ketika duduk di bangku SMP dulu. Iwan namanya. Dia tak lain tidak bukan adalah ketua OSIS pada jamanku itu. “ketidak beradaannya” secara ekonomi membuatnya tak mengijinkan siapapun termasuk aku untuk mengetahui dimana rumahnya. Dia hanya bilang kalau rumahnya berada di dekat tempat pembuangan sampah dan di pinggir kalimas. “Apa hubungannya dengan persahabatan ini?” tanyaku dalam hati. Pun demikian aku sangat menghargai privasinya. Mungkin persahabatan kami hanya sampai diambang pintu rumahnya.

Lepas SMP, diawal-awal dia masih sering kerumahku. Namun entah mengapa setelah itu, kami disibukkan dengan urusan kami masing-masing di sekolah. Bagiku, bukan karena aku sudah memiliki teman-teman baru di STM, tetapi karena memang aku sangat susah menghubunginya. Tidak ada no telpon atau HP yang bisa dihubungi. Rumahnya pun aku tidak tahu. Mau tanya kemana juga tidak ada yang tahu. Aku hanya bisa berharap suatu saat aku masih bertemu dengannya.

Pernah suatu saat, setelah aku lulus STM, harapanku untuk bertemu dengannya sangat memuncak. Tidak tahu kenapa, pagi itu aku diserang dengan keriduanku untuk bertemu dengannya. Bercanda, memimpikan masa depan, dll hal-hal yang sering kami lakukan bersama. Dalam tiap sholatku hari itu, aku cantumkan namanya. Lalu, adzan Isya dari masjid dekat rumahku pun berkumandang, seperti biasanya (masa sih….?) aku bergegas memenuhi panggilan Allah itu. Aku sholat Isya di masjid itu.

Usai sholat, kulangkahkan kakiku ini entah kemana. Aku hanya menikmati rasa rinduku pada sahabatku yang satu itu. Aku berjalan di pinggir jalan menyusuri jalan raya Sidotopo hingga ke Ampel sambil mencoba mengingat masa-masa dulu ketika kami bersama. Tak ayal terkadang aku bicara sendiri, tertawa sendiri. Pun bibirku melayangkan senyum tawa namun hatiku masih menangis mengingatnya. Memang benar kata Slank “terlalu manis untuk di lupakan, kenangan yang indah bersamamu…..”. kubiarkan saja orang mencibirku gila atau apalah, aku terus berjalan.

Perjalanan ini cukup jauh, hingga tak terasa langkah kakiku membawaku pulang kerumah. Disana ibuku yang cantik menungguku seolah ada kabar yang ingin dia sampaikan.

“Dani (Nb: aku kalau di rumah di panggil Dani), baru saja Iwan kesini. Dia tunggu kamu lama sekali.” Katanya

“Hah? Mana dia sekarang? Mana bu?” aku tak tahu apa nama ekspresi ini, yang jelas aku shock sekali.

Iwan, aku kangen padamu dimana kamu sekarang, kataku dalam hati.

“dia sudah pulang. Sudah agak lama sih. Tapi gak tahu lagi kalau masih ada di jalan” jawab ibuku.

Tak kupedulikan apa-apa, termasuk sandalku yang tertukar kanan dan kirinya, aku bergegas lari sekencang mungkin seperti maling yang ketahuan orang sekampung. Aku berlari menuju angkutan di pinggir jalan. Aku telusuri satu persatu penumpang di dalamnya. Tak ada wajah Iwan disana. Aku periksa angkot yang satunya lagi, pun sama. Dia tak ada disana.

Aku lalu melihat angkot depanku yang sudah berjalan cukup jauh didepanku. Lajunya agak lambat. Aku pikir, mungkin ia disana. Aku lari sekencang-kencangnya mengejar mobil Lyn F yang berwarna coklat susu itu. Ternyata lajunya yang lambat memang memberi manfaat, paling tidak dengan kecepatan lariku aku masih bisa mengejarnya. Salah jika aku selama ini mengumpat angkutan ini yang memang lajunya lambat sekali.

Aku berlari hingga akhirnya aku berada di depan mobil itu. Aku menghentikan mobil itu seolah-olah aku hendak naik. Aku tidak naik, aku hanya memeriksa saja. Menunggu agak lama sang sopir berteriak “cepetan dik!”. Logat madura sang sopir sangat kental.

Kulihat satu persatu. Wajah yang menunduk terkantuk itu. Itu pasti Iwan. Potongan badannya memang Iwan, tapi…..

Aku memanggil perlahan, “Iwan…… !”

Lalu wajah itu terangkat keatas. Ya……!!!!! Itulah Iwan. Ya Tuhan, itu memang benar Iwan.

“cepetan dik! Sido numpak (jadi naik) ga?” suara itu terdengar lagi.

“Wan cepetan turun” kataku padanya. Aku lalu membayar si sopir. Iwan turun dari angkot.

Tanpa sungkan, aku langsung memeluknya. Melepas kerinduan pada sang sahabat yang kata orang-orang kami sudah seperti saudara.

Tuhan, Kau kabulkan permintaanku. Terima kasih Tuhan.

Singkat cerita, sebenarnya banyak sekali pencapaian-pencapaian dalam hidupku ini yang aku mulai dengan berpikir. Intinya, keinginan yang benar-benar kita inginkan dan itu kita pikirkan tiap hari, akan terwujud. Bagaimana caranya?

nantikan kelanjutan pembahasannya…. di Law of Attraction 2

K.M.3 si penjual tahu

Saturday, December 22nd, 2007

Belajar dari penjual Tahu

Ok, kali ini kita akan belajar dari seorang guru yang tak pernah menamai dirinya seorang guru, namun selayaknya dari dia kita juga patut belajar. Dia adalah seorang penjual tahu di kereta api yang sangat menginspirasiku.

Hari ini aku di jakarta untuk sekedar melepas rindu bersama teman-teman baikku. Aku bertemu dengan Huda, Ronny, santos. Seharusnya kami berlima, tetapi Wuri baru saja menikah. Kami tidak mau mengganggunya. Tahulah….!

Aku dan ronny berangkat dari surabaya naik kereta api ekonomi. Walaupun ronni mampu untuk naik pesawat sekalipun, aku tetap membujuknya naik kereta ekonomi. Aku bilang, belum tentu nantinya aku bisa naik kereta itu lagi. Suasananya yang pasti aku rindukan.

Jakarta, oh tak kubayangkan aku akan datang lagi kesini. Kota yang tidak ada dalam daftar kota yang ingin aku tinggali. Bukannya apa-apa. Aku pernah kesini, disini sumpek sekali, semrawut, bising, polusi, panas, egois, penipuan dll. Tapi ya sudahlah, toh nanti kantorku juga disini. Hehehe pede banget sih.

Buku ”Iblis menggugat Tuhan” menemani perjalananku selama di kereta selain guyonan satir ala aku dan ronny. Aku juga ga membayangkan satu perjalanan sama dia tanpa temanku yang lain. Kami selalu bertengkar seperti Tom and Jerry dan biasanya yang memisahkan dan melerai kami huda atau santos. Tuh orang menjengkelkan, tapi lucu. Hehehe, maaf ya ron. Pun begitu kamu tu hebat kok aku kagum padamu. Kamu bisa mendapatkan pekerjaan di perusahaan ternama hanya bermodalkan ijasah STM. Ga semua orang bisa mendapatkan kesempatan itu. Ok?

Sesekali aku sangat serius dengan bacaanku yang menuntutku untuk berpikir keras ini. Betapa tidak, ternyata iblis mengklaim dirinya sebagai makhluk yang paling disayang Allah, makhluk yang sangat taat pada Allah. Melalui argumen-argumennya yang sekilas sangat logis, ia mencoba untuk menyesatkan manusia. Saranku, kalau kamu baca buku itu kamu harus punya iman yang tebal, lalu baca bismillah sebelum membaca, karena jika tidak, aku jamin kamu pasti akan larut dalam buaian kata-kata manisnya yang membujukmu untuk mengikuti jalannya.

Ditengah keseriusanku aku terbangunkan oleh si penjaja tahu yang menawarkan tahunya ke aku. Ini bukan yang pertama ia menawarkannya padaku. Sudah kesekian kalinya. Aku lupa berapa kali. Tapi aku tidak beli juga. Lalu ia pergi berkeliling lagi, dan aku lanjutkan petualanganku menyelami dunia fana sang iblis dalam menggugat Sang Khalik.

Krucuk, sepertinya cacing dalam ususku ini ikutan memberontak layaknya iblis yang kubaca ini. Aku malas untuk makan nasi, tapi makan kacang atom yang dibawa ronni pun terlalu ringan. Aha, aku ingat, TAHU!. Ya sepertinya makanan itu tidak ringan juga tidak berat. Pas untuk seleraku saat ini.

Aku menunggu sang penawar lapar, si penjual Tahu. Sudah lama aku menantinya, tapi kok belum datang juga. Mungkin dia masih keliling di gerbong lain, pikirku. Aku sambil melanjutkan membaca.

Penjual itu masih belum datang.

Setelah lama, akhirnya datang juga. Tidak seperti yang aku lihat sebelumnya, saat ini, tahu dagangannya mulai berkurang dan hampir habis. Setelah aku membelinya, tanpa menunggu lama, apalagi menunggu ia harus mengambil duit untuk membayar kembalianku, aku segera melahap tahu goreng itu.

Lalu si penjual itu pergi…..

Dia berkeliling lagi sambil berteriak ”tahunya seribu mas, tahunya seribu bu…”

”tahunya seribu mas, tahunya seribu bu……”

Begitu terus. Suaranya yang agak melencing memancing penumpang belakangku untuk menirukan suaranya.

Dia datang dan melewati gerbongku lagi, kali ini tahunya tinggal 1 bungkus saja. Tanpa malu-malu, ia menawarkan pada penumpang depanku, ”mas, tahunya terakhir, mas….seribu mas” dan akhirnya penumpang itu membelinya.

Anganku melayang di saat dimana pertama kali si penjual tahu itu menjajakan tahunya untuk yang pertama kali. Setumpukan bungkusan tahu ada di pundaknya. Namun saat ini habis tak tersisa.

Sohib, bukan ”habis” ini yang aku kagumi, tapi perjuangan dia untuk menghabiskan barang dagangannya itu. Kamu tahu, bukan sekali- dua kali ia menjajakannya di hadapanku. Berkali-kali. Namun ia tak gentar. Ia terus menawarkan walaupun saat ini orang itu menolaknya. Dia yakin suatu saat orang itu akan membelinya. Ia terus menjajakannya, menawarkannya walaupun di orang yang sama, gerbong yang sama. Mungkin ia tinggal sebentar, lalu ia kembali lagi dengan menjajakan barang yang sama. Satu kali, dua kali, tiga kali, ia tak pernah gentar sampai orang lain itu merasa membutuhkannya dan lalu membeli tahunya.

Ia tak serta merta berhenti begitu saja. Ia pun tak kenal malu menawarkan kembali ke orang yang bahkan sudah membeli tahu itu. Sebuah keyakinan, ketekunan yang luar biasa, bukan?

Seringkali kita merasa sudah kalah hanya dengan penolakan atau kegagalan yang Cuma sekali saja. Lalu kita berhenti untuk mencoba dan melanjutkan perjuangan kita. Lihatlah seorang tukang penjual tahu yang terkadang pendidikannya pun masih lebih rendah dari kita, ia yakin bahwa setiap usaha yang dilakukan dengan terus-menerus akan mewujudkan hasilnya suatu saat. Mungkin bukan pada saat itu, tapi 1 jam lagi, atau besok, atau bulan depan, dll. Yang jelas, jangan pernah berhenti, terus lakukan.

Coba kita berpikir bagaimana jadinya jika si penjual itu berhenti pada penolakan yang pertama, atau mungkin yang kedua? Apakah barang dagangannya itu bisa laku habis terjual?. Sohib, dalam dunia ini kita selalu memandang luarbiasa orang yang sukses, tanpa kita melihat bahwa orang itu melakukan hal-hal biasa yang ia lakukan tiap hari, tanpa henti dan terus menerus.

Sohib berjanjilah padaku, kita akan sama-sama menjadi orang yang tak kenal lelah dan putus asa. Istirahat sesekali mungkin boleh, untuk mendapatkan kembali energi untuk melangkah lebih jauh lagi, namun jangan pernah berhenti. Karena ketika kita berhenti maka kesuksesan itu akan semakin jauh.

Sohib, ayo terus berjuang, terus berkarya. Mungkin saat ini kita tidak melihat hasilnya. Namun suatu saat pasti ada orang yang ”lapar” dan akan ”memanggil” kita, tanpa kita sadari kapan waktunya itu. Wayarzukhu min khisula yah tahzib. Sesunggunhnya rezeki Allah itu datang dari arah yang tak disangka-sangka. Insya Allah janji Allah benar adanya. Jangan berhenti. Terus melangkah. Kita pasti bisa, yes!!! Kayak kampanye aja. Hehehe.

Salam sukses dari sohibmu ini, ghosty.

Si Arif 2

Saturday, December 22nd, 2007

Arif, bertemu orang baik hati

Pic_0117_1

Sebelum membaca artikel ini, aku berharap anda semua sudah membaca artikel 1 tentang si Arif. Disana menceritakan kisah awal Arif memulai perjalanannya meraih impiannya.

Arif kembali lagi dengan kisah yang seru. Di artikel pertama, kita bisa melihat wajah si Arif yang boleh dibilang kumus-kumus, hitam, tak terawat, apalagi jika anda mengenalnya secara langsung, susunan berbahasanya cukup kacau, tidak teratur. Sepintas, kita mungkin bisa menyimpulkan kalau dia ini seorang pencuri kecil. Ya, ini bukan pikiran kita saja, sebagian besar orang juga berpikir seperti itu. Berandalan kecil yang memakai seragam sekolah.

Pernah suatu pagi, seperti biasanya, ia berangkat dari rumahnya pukul 3.30 pagi. Berjalan kaki menuju jalan gembong untuk mencari lyn R. Ketika itu baru sampai di jalan semarang, ia mencoba menoleh-noleh ke belakang sambil berharap ada orang baik hati yang mau memberi tumpangan.

Harapan itu pun terwujud. Tiba-tiba saja ada seorang yang datang dari belakang naik motor. ”mau kemana dik?” tanya bapak separuh baya itu.

”mau ke kalianyar pak” jawab Arif.

Orang baik hati itu pun mengantarkannya sampai ke kalianyar. Sebelum berpisah si orang baik hati ini mengambil dompetnya, mengambil secarik kertas 20 ribuan dan diberikannya pada si Arif. ”kamu kalau butuh apa-apa hubungi bapak ya. Ga perlu mencuri. Ini no telpon bapak” kata bapak baik hati itu. Aku lupa namanya, kalau tidak salah pak Warno.

Arif senang bukan kepalang. Benar-benar ia tidak menduga, hari itu adalah hari keberuntungannya, walaupun ia tidak menyadari bahwa si bapak baik hati itu (mungkin) menduga kalau ia adalah seorang pencuri. Bagi ia, tak peduli apa kata orang, yang penting ia tidak melakukan hal negatif ia akan jalan terus, dan yang lebih penting lagi 20 ribu men!!!. Bisa ga bayangin betapa baginya uang segitu sangat besar artinya.

Dengan semangat menggebu-gebu, ia menceritakan kejadian itu padaku. Aku pun lalu tertawa, walaupun dalam hatiku menangis, karena aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika melihat penampilan fisikmu memang demikian adanya. ”kamu sudah mengucapkan terima kasih ke dia?” tanyaku. Memang, 3 kata yang kami tanamkan ke mereka, bahwa ini harus sering kita ucapkan dalam pergaulan kita sehari-hari, yakni ”terima kasih, tolong, dan maaf”.

”belum mas”, katanya

Aku segera menyuruhnya untuk menelpon bapak itu. Ia lalu mengangkat ganggang telepon, menekan nomor yang ada di sobekan kertas itu.

Sepertinya langsung menyambung. ”pak, saya Arif, rumah bapak dimana?” katanya dengan suara yang agak keras. Sepertinya orang di balik telepon itu tidak menanggapinya dengan baik, lalu arif pin bicara lebih keras lagi ”ya, rumah bapak dimana? Rumah bapak itu dimana?”

Aduh Arif kok seperti itu sih ngomongnya……

Aku terlupa sesuatu kalau gaya bicaranya masih kacau dan belum tersusun dengan rapi. Aku bisa membayangkan apa yang ada di pikiran bapak itu. Satu hal, aku yakin bapak itu takut dengan gelagak Arif yang tiba-tiba telepon menanyakan alamat rumah. Aku mendiktenya dengan pelan, ”te….ri…ma kasih pak” kataku sambil memoncongkan bibirku biar terlihat jelas apa yang aku katakan.

Arif lalu mengatakannya ”terima kasih pak”.

”oya, begini aja rif, rumah kamu dimana?” tanya bapak itu, dan arif segera menjawab dimana rumahnya.

Oh Tuhan maafkan aku, semoga ini bisa menjadi pelajaran baginya. Aku pun lalu mengajarinya cara yang benar mengucapkan terima kasih itu. Jelas saja ia tidak mau memberi alamatnya, karena kamu bicaranya seperti itu rif. Kamu harus bisa lebih halus lagi. Kami semua tertawa mendengar Arif telepon tadi……

Waktu pun berlalu, saat ini Arif menunjukkan progresnya dalam bertutur kata. Satu hal yang aku senang darinya adalah, ia cepat sekali belajar. Ia menerapkan segala apa yang kami ajari. Setiap progres yang ia tunjukkan adalah bukti kesungguhannya dalam beljar dan menapaki tiap langkah perjalannya meraih impian.

Hari ini apa yang kita pelajari dari seorang arif?. Sobat aku ingin komentar`dari kalian, kira-kira pelajaran apa yang bisa kita petik dari sini. Masih banyak lagi kisahnya yang dramatis dan dinamis (naik turun). Aku pikir, aneh sekali anak ini, hidupnya tidak stabil, ada saja kejadian-kejadian yang menimpanya. Untuk itu, nantikan kisah arif berikutnya.

kedai motivasi 2

Saturday, December 22nd, 2007

Belajar semangat dari sang Arif

Arif Wijaya namanya. Dia biasa dipanggil Arif. Dia adalah salah satu muridku di program pembinaanku- Aulia. Awalnya tak pernah kusangka aku bakal mendapatkan “bintang” seperti dia. Berawal dari tes interview yang kami jalani di salah satu sekolah SMP negeri di surabaya. Kami hanya ingin mendapatkan anak-anak yang pas untuk di bina. Rumahnya yang berjarak jauh sekali dari sekretariat (rumah bina) kami adalah hal yang kami utarakan di awal.

Aku bilang padanya ”rif, bukan kami tidak mau menerima kamu, tapi tempat ini jauh sekali. Kamu nanti capek lho.” Dengan penuh pengharapan ia menjawab, ”ga papa mas, aku Cuma ingin bisa bahasa inggris”, ”kenapa?” tanyaku. Ia pun mulai menceritakan bahwa saat itu mengikuti sebuah ajang pemilihan murid teladan di daerahnya, namun harus menerima kekalahan hanya karena tidak bisa berbahasa inggris.

”apa cita-citamu?” ”aku ingin menjadi nahkoda mas” jawabnya dengan lantang dan tanpa berpikir panjang. ”kenapa?” aku melanjutkan bertanya sekedar melihat keseriusannya. ”aku ingin mengajak ibuku keliling dunia”. Masya Allah sebuah jawaban yang sangat mengiris hati.

Aku mulai menanyakan tentang latar belakang keluarganya. Dia adalah anak seorang satpam yang kini bapaknya tak lagi ada didunia ini. Ibunya hanya seorang pembantu rumah tangga yang bergaji tak lebih dari 150 ribu rupiah perbulannya. Tiap sore atau malam hari ibunya berjualan martabak didepan rumahnya sekedar untuk menambah penghasilan.

Ia tinggal di sebuah gubuk tua di daerah kedungdoro surabaya. Sebuah rumah yang tidak pantas di sebut rumah. Hanya tinggal menunggu tiupan angin sebentar, wuuus, lalu robohlah rumah itu. Sebagai anak yatim yang membutuhkan kasih sayang, terkadang ia sering menjahili temannya. Tak kurang-kurang gurunya menasehati ia agar tidak jahil lagi ke temannya. Ketika sang guru menyuruh ibunya datang ke sekolahan, sang guru juga harus memberi uang angkutan untuk ibunya karena memang tidak ada duit.

Aku, sebagai interviewer terus mengejarnya dengan pertanyaan yang menjatuhkan dia sekedar untuk meyakinkan diri bahwa dia benar-benar serius untuk di bina. Dan tiap jawaban yang ia berikan selalu meyakinkanku, seolah-olah berkata ”mas, kamu tidak akan pernah rugi untuk menerimaku”. Semangat itu dengan cepat merasuk dalam kalbuku.

Pikiranku menerawang jauh beberapa tahun yang lalu, ketika aku SMP. Betapa aku berjuang melawan ”ketiadaan” hanya untuk sekedar melanjutkan sekolah. Aku memang orang lemah, orang tuaku pun tidak mampu. Namun satu senjata yang sangat kuandalkan yakni SEMANGAT. Itu saja yang kupunya, hingga saat ini aku telah membuktikan aku bisa sekolah hingga jenjang perguruan tinggi tanpa modal apa-apa selain semangat.

Yup, anak inilah aku cari. Oke Arif, melihat semangatmu yang menggelora aku menjadi bersemangat untuk berkomitmen bahwa aku akan membinamu, mendampingimu, mengantarkanmu hingga tercapai semua tujuanmu, cita-cita yang kamu inginkan.

Hari pertama berkumpul

Saat itu kami mengadakan briefing awal. Tepatnya hari sabtu. Semua murid-2 berkumpul dan diantar oleh orang tuanya, kecuali sang Arif. Ya, aku jadi teringat kata gurunya.

Kami menceritakan tentang visi dan misi kami, program-program kami, dll. Alhamdulillah semua orang tua setuju. Belajar, atau les dimulai pukul 5.30 pagi.

Alasannya:

suasana jalan masih belum rame, sehingga bisa aman melatih anak-anak untuk bangun pagi, sholat shubuh dan tidak tidur lagi usai sholat.

otak manusia masih dalam keadaan fresh

kebetulan mereka masuk sekolah siang hari, sehingga ketika les dimulai pukul 530, berakhir pukul 730, mereka masih memiliki waktu yang cukup untuk pulang terlebih dulu kerumahnya.

Suasana belajar dimulai dengan mengaji Al Quran terlebih dulu selama setengah jam. Jadi mereka membawa Al Quran sendiri-sendiri. Acara ngaji di pandu oleh mas Burhan, Desain produk 2003, dan Ririn, Desain Produk 2007.

Di hari pertama itu, Arif pulang yang paling akhir, sambil menunggu waktu untuk ekskul karate, katanya. Dia tadi naik sepeda pancal yang setelah kuselidiki, ternyata, sepeda itu adalah milik orang tambal ban di jalan. Ceritanya, sepedanya rusak. Rantainya putus. Lalu ia coba serviskan disana. Karena ia takut datang terlambat, ia lalu pinjam sepeda si tukang tambal ban. Aku tidak tahu bagaimana ia meyakinkan orang itu. Lalu aku bertanya, apa ia memiliki uang untuk servis. Dan, ia pun tidak punya. Hmpfgh, anak ini sungguh nekad. Satu lagi ia buktikan kalau ia benar-benar bersemangat. Dan kami beri ia sejumlah uang agar sepedanya bisa pulih lagi.

Hari kedua berkumpul (hari pertama les)

Waktu masih pagi, sekitar pukul 5 pagi. Aku baru saja membuka pintu, jendela dan gorden rumah Kalijudan agar sang malaikat pemberi rizki sudi mampir ke rumah bina kami. Mas Burhan hendak datang ke satpam untuk meminta ijin pelaksanaan les. Si satpam bilang, tadi ada anak yang mengaku mau ke rumah. Mas burhan tidak tahu wajah si Arif. Lalu ia melihat ada satu sosok anak kecil di pinggir rumah. Ya, itulah si Arif.

Dia sengaja tidak masuk dulu karena ia tidak menjumpai teman-temannya disana. Malu, katanya. Aku persilahkan ia masuk. Ia belum sholat shubuh dan belum juga sarapan. Aku lalu menyuruhnya segera sholat shubuh. Kulihat seluruh tubuhnya, ternyata ia tidak memakai celana panjang. Di rumah juga tidak ada sarung. Alhasil, aku menyuruhnya memakai sprei sebagai pengganti sarung.

Pic_0069_2

Foto Arif sedang memakai sprei kuning

Aku bertanya tentang sepedanya yang rusak. ”malah tambah rusak mas…..” katanya. ”Lalu kamu kesini naik apa?”, ” jalan kaki” jawabnya dengan lantang.

Sumpah aku tidak percaya, jarak kedungdoro ke puri kalijudan sangat jauh.

Aku bertanya lagi kesungguhannya. ”nggak sih mas. Aku jalan dari kedungdoro ke gembong lalu naik lyn R. Lalu aku turun di pertigaan kenjeran. Dan jalan kaki lagi sampai kalijudan”. Sungguhpun kamu naik lyn itu, tapi perjalanan kakimu itu sudah sangat jauh Rif, kataku dalam hati.

”kamu berangkat dari rumahmua jam berapa?” ”jam setengah 4” katanya.

Sohib, sungguh aku menulis ini sambil meneteskan air mataku. Tak kuat aku menahannya. Aku malu melihat semangatnya yang membara itu. Kenapa hanya dengan masalah yang kelihatannya enteng sekalipun, terkadang aku harus mundur dari masalah itu.

Bagi Arif, jarak jauh itu bukanlah sebuah masalah. Cita-citanya terlalu mahal untuk sekedar menyerah gara-gara transportasi. Ia berpikir bahwa Allah telah menciptakan kendaraan yang paling canggih yang tak pernah bisa dibuat oleh manusia sepintar apapun dia, yakni KEDUA KAKINYA.

Sohib, ayo sama-sama kita membayangkan betapa paginya pukul setengah 4 itu. Kita mungkin masih memeluk guling, atau menarik selimut, tapi bagi ia, ini adalah perjalanannya meraih sebuah impian. Sebuah harga yang harus dibayar didepan. Sepertinya ia paham sekali bahwa di dunia ini berlaku hukum ”bayar sekarang, main kemudian, atau main sekarang, bayar kemudian”.

Aku pun meneteskan kembali airmataku melihat tertawa lepasnya di foto atas. Tertawa lepas dari seorang anak yatim. Ya Allah beri aku kekuatan agar aku bisa menyelamatkan lebih banyak lagi senyum itu, tawa itu. Lagi-lagi Arif telah membuktikan bahwa tak rugi aku telah memilihnya. Arif, cita-citamu sangat dekat. Aku akan selalu disampingmu. Itu janjiku padamu. Akan aku bantu kamu untuk mewujudkan impianmu. Tak ada sesuatu didunia ini yang tidak bisa dibeli dengan semangat. SEMANGAT adalah mata uang dunia yang tak kenal ruang dan waktu.

Sohib, aku ingin terus bercerita tentang si Arif kecil yang begitu bersemangat, bahkan ketika ia harus bertemu seorang penjahat. Dan terkadang ia bertemu orang yang baik hati. Nantikan kisah Arif yang begitu menginspirasi ini. Jika anda belum merasakan SPIRIT seorang pejuang impian disini, itu bukan karena kisahnya yang tidak bisa menginspirasi anda, tetapi karena kebodohanku dan kekuranganku dalam menulis. Untuk itu aku ingin mengundang anda semua untuk mengenalnya secara dekat dengan datang ke rumah bina kami.

Tuesday, December 18th, 2007

Kedai motivasi 1

Menjadi pribadi mandiri

sohib, aku memiliki 2 orang teman yang sangat berbeda karakter. Aku ingin menyampaikan ini untuk dijadikan studi saja, tanpa bermaksud apa-apa. Temanku yang pertama, dia ini cowok perantauan yang kuliah di perguruan tinggi yang cukup ternama di Surabaya. Kamarnya begitu kotor, kumuh, pakaian kotor ataupun bersih campur aduk menjadi satu disana. Tidak ada ruang sedikit pun di kamar kosnya untuk kita merebahkan tubuh atau untuk belajar. Bau-bauan pun menyengat, mulai dari bau puntung rokok, keringat yang menempel dibaju, bau sisa makanan, apalagi kalau perut lagi sakit lalu menyebarlah angin-angin yang tak sedap. Andai ada penghargaan kamar terkotor, mungkin dia adalah sang jawara.

Pekerjaan sehari-harinya selain kuliah (itupun kalau sedang moody) adalah game, atau nonton TV di depan kamar kosnya (acara favoritnya adalah buser, dan sepak bola), makan ,tidur mandi, nyetel musik sekeras mungkin sambil menyanyikan lagu itu. Tidak jarang, tetangga kosnya protes ke temanku itu. Untung si tetangga itu masih terhitung pelit, sehingga tidak akan merelakan piringnya melayang ke pipi teman saya itu.

Menjadi kebiasaannya, bingung ketika uang kiriman orang tuanya terlambat datang. Hutang ke teman-teman kosnya sudah menumpuk, wajah seram bapak kos ketika menagih uang kos, belum lagi jeritan “cacing-cacing perut”nya, dll membayangi pikirannya. Baginya saat-saat seperti itu adalah saat dimana serasa ajal menjemputnya. Andai ia tidak berpikir tentang cintanya ke pacarnya, mungkin ia sudah bunuh diri.

Waktu demi waktu ia lalui dengan kegiatannya yang seperti itu-itu terus. Kuliah pun mengalir begitu saja. Tanpa ia berpikir bagaimana agar ia bisa lulus dengan sukses selain dengan cara DO (drop out) atau OD (out dhewe). Tak kaget jika ia harus turun beberapa angkatan. Lucu juga ketika ia harus duduk sekelas dengan adik angkatan yang ia bentak-bentak pada saat ospek. Begitu kerasnya ia meneriakkan kata-kata “disiplin”, “bodoh”, “kreatif”, dll, tetapi sementara ia sendiri…?

Lain ceritanya dengan satu temanku ini. Dia seorang cewek berjilbab. Wajah dan pembawaannya selalu ceria. Berpenampilan bersih, dan sejauh yang aku tahu, ia tidak pernah ada masalah dengan kuliahnya baik itu yang berhubungan dengan mata kuliah yang di ambil maupun dengan administrasi. Sepertinya ia berasal dari keluarga yang cukup berada, sederhana, namun harmonis.

Ia aktif sekali di kegiatan kampus. Tak bisa aku sebutkan satu persatu, namun yang jelas, dia mengikuti komunitas pengusaha muda di kampusnya itu. Ya, ia memang suka sekali dengan dunia bisnis. Segala hal yang sekiranya bisa menghasilkan uang, asalkan halal, akan ia lakukan. Bisnis yang ia geluti saat itu adalah event organizer. aku lupa apa namanya, namun yang jelas EO itu bergerak di bidang pendidikan. Ia sering mengadakan pameran buku, seminar, dll yang berhubungan dengan dunia pendidikan.

Karena kagum akan keaktifannya dikampus, maka aku mulai mendekati dia. (itulah kebiasaanku. Ketika aku melihat ada sosok hebat yang aku kagumi, aku berusaha untuk mendekati dia. Sekedar untuk belajar, bagaimana ia bisa menjalani itu semua, kuncinya untuk meraih kesuksesan, manajemen waktu, visi, dll. Atau bahkan saking penasarannya, biasanya aku juga melihat cara makannya, tidurnya, dan yang lebih jahil lagi, aku juga ingin tahu tentang keluarganya. Apa benar ia dilahirkan oleh seorang manusia, atau jangan-jangan ia manusia yang tiba-tiba turun dari langit). Dan Alhamdulillah ia mengijinkanku untuk bisa dekat dengannya.

Semakin aku dekat dengannya, semakin bertambah kekagumanku. Pernah satu hari kami mengikuti sebuah pelatihan bisnis di salah satu hotel yang cukup ternama di Batu Malang. Ada satu sesi yang berisi renungan yang diberi nama “who am I ?”. keahlian sang pembicara dalam mengelola kata-kata dan berorasi tak perlu diragukan lagi. Dalam sekejap sang pembicara bisa menyulap gedung yang berisi sekitar 2000 orang menjadi lautan air mata. Betapa tidak, kita diingatkan akan begitu besarnya jasa orang tua kita pada kita. Dan betapa rendahnya apresiasi kita pada mereka.

Semua orang menangis, termasuk aku. Namun, aku terus perhatikan ia yang duduk disebelahku, tidak menangis blas. Seusai sesi itu, kami duduk di taman hotel. aku bertanya kenapa. Ia tidak menjawab. aku terdiam sambil menunggu ia membuka pembicaraan.

Lalu tak lama ia menjawab, “buat apa aku menangis? Toh orang-orang yang seharusnya aku tangisi sudah tidak ada lagi di dunia ini..

maksudmu orang tuamu?”

ya” dia tertunduk dan diam sejenak. Sepertinya ia sedang menahan bendungan air mata yang sedari tadi mengintip di ujung matanya. Dan…. ia pun menangis.

Aku kaget bukan kepalang. Sumpah, aku baru menyadari sebuah jawaban kenapa ia tidak mau bercerita tentang keluarganya. Aku baru tahu bahwa kedua orang tuanya sudah tiada.

aku benci kalian semua. Gus, asal kamu tahu, aku ikut acara renungan bukan sekali ini saja. Aku melihat semua teman-temanku menangis. Mereka juga berkomitmen mau berubah. Namun apa kenyataannya? seusai renungan, mereka tertawa, bahkan menertawakan tangisan mereka. Lalu buat apa berkomitmen hendak berbakti pada orang tua, dll, lalu apa arti tangisan itu?. Kalian sungguh beruntung, jika kalian berkomitmen ingin berbakti pada orang tua, kalian bisa menunjukkan bakti kalian itu dengan segera, tetapi aku? Dimana kuletakkan baktiku?. Lalu buat apa aku menangis?”

Sohib, sungguh sangat mengagumkanku ketika aku menyadari bahwa kerja kerasnya selama ini adalah sebuah perjuangannya agar bisa survive di dunia ini. Ia bekerja apapun untuk bisa mendapatkan uang agar ia bisa melanjutkan kuliahnya, agar ia bisa makan, beli pakaian, bayar uang kos, agar bisa ke dokter jika sakit, agar bisa nonton bioskop ketika ia sudah merasa jenuh, agar ia bisa beli bensin motornya, agar ia bisa beli pulsa, agar ia bisa beli buku, dll. Tak terasa air mataku pun jatuh merasakan betapa perihnya kehidupannya ini.

Aku merasa sangat tertampar. Sungguh keras sekali tamparan itu. “Lalu dimanakah wajah lelahmu teman? Tak bolehkah aku melihatnya?”. Tanyaku padanya.

gus, buat apa menunjukkan muka memelas ke orang lain? apa kamu bisa menjamin orang itu bisa membantuku? Tak ada orang yang tahu latar belakangku”.

Sohib, ingin sekali aku melipat wajahku dan segera kusimpan di saku celanaku. Malu aku dihadapannya. Betapa tangguhnya wanita ini. Di uji dengan ujian seberat ini. Sohib, aku butuh bantuanmu untuk bersamaku mendoakan dia agar dia bisa meraih apa yang ia cita-citakan, selalu dalam lindungan Tuhan, dan bisa menginspirasi banyak orang.

Singkat cerita, satu hal yang aku pelajari dari temanku yang kedua ini adalah, betapa tangguhnya dia dalam menghadapi kehidupan. Dia berdiri di atas kakinya sendiri. Tak pernah ia merasa mengeluh sedikit pun karena baginya mengeluh itu tidak akan memberi keuntungan baginya. Pantang baginya untuk mundur dari ”arena permainan” dunia, walaupun mundur itu sendiri sepertinya menjadi pilihan yang sangat mudah untuk dijalankan.

Mandiri. Sepertinya kata ini menjadi momok bagi sebagian kita. Saat ini, nilai kemandirian sudah tak lagi menjadi pegangan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pernah aku bertanya ke temanku yang pertama tadi tentang harga sebuah kemandirian. Lalu ia menjawab “ah, hidup ini tidak perlu dibuat susah. Saat ini aku hanya menikmati masa mudaku yang nanti tidak akan bisa kembali lagi. Toh orang tuaku masih bisa membiayai aku”.

Aku lalu melanjutkan, “andai tiba-tiba orang tuamu meninggal?”

ah kamu ini kok bicara yang nggak-nggak sih? Jangan doakan gitu dong!!”

Tak berani aku melanjutkan lagi. Biarlah pertanyaanku tadi menjadi pesan nilai yang aku sendiri tidak tahu kapan ia bisa menyadarinya. Tahun depankah?bulan depankah? Atau setelah ia bermain PS ini?.

Lalu sebuah pertanyaan aku lontarkan ke temanku yang kedua tentang masa muda. Ia menjawab dengan singkat dan jelas “lebih baik aku kehilangan masa mudaku daripada aku kehilangan masa depanku”. Sebuah jawaban seribu pesan.

Sohib, kita tidak akan pernah tahu, kapan orang tua yang selama ini menjadi “pegangan” kita, meninggal. Tidak ada jaminan di dunia ini. Namun satu hal yang pasti, Tuhan tidak pernah menutup mata, bagi siapa saja yang mau berusaha, Ia pasti akan membuka pintu berkah bagi orang itu. Seperti kata seorang trainer ketika saya mengikuti sebuah pelatihan, “Tuhan tidak pernah menjanjikan pelayaran yang indah, namun Tuhan menjanjikan pelabuhan yang indah”. Sohib, kita percaya Tuhan, bukan?. Kalau begitu, kita percaya janji Tuhan kan?. Semoga anda setuju dan sepemikiran dengan saya bahwa Tuhan itu tidak akan pernah berbohong. Lalu jika memang demikian, mengapa kita selalu takut?

Sohib, dengan segenap hati aku ingin mengajak sohib semua bersamaku, kita bangun sebuah komunitas orang-2 yang mandiri. Sudah cukup orang tua kita membiayai kita. Tak inginkah kita melihat mereka bekerja dan hasilnya untuk kebahagiaan mereka sendiri?. Mungkin kita saat ini belum berpenghasilan sehingga belum bisa memberi apa-apa ke orang tua kita, namun tidak adakah keinginan kita untuk bisa meringankan bebannya, barang Cuma sedikit saja?.

Sohib, aku pernah sharing cerita kehidupan temanku yang kedua ini ke satu sahabatku. Tidak lama, ia segera mengangkat handphonenya dan menekan satu nomer yang tak lain adalah mamanya.

Ma, mulai bulan depan, mama jangan kirim uang ke aku lagi ya!. Aku tahu mama masih bisa membiayai aku. Tapi ijinkan aku untuk belajar mandiri” kurang lebihnya ia berkata seperti itu ke mamanya.

Lalu suara di balik speaker itu berkata, “tapi….”

mama, aku tahu mama sayang aku. Beri aku waktu dan kesempatan untuk menjalaninya dulu. Aku akan melakukannya semaksimal mungkin. Dan percayalah, aku akan tetap kuliah dengan baik, dan aku tidak akan mengecawakan mama dan papa. Ma, makasih ya atas kebaikan mama selama ini, salam buat papa”.

Tidak ada sahutan dari balik speakernya. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun aku yakin mamanya sedang terbengong-bengong kebingungan memikirkan apa yang sedang terjadi pada anaknya tercinta itu.

Sohib, semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua agar bisa belajar mandiri. Aku harap bisa membuat banyak diantara kita yang dengan langsung dan segera menelpon orang tua kita dan mengikrarkan “kemandirian” kita.

Sohib, peradaban sebuah bangsa dibangun atas kepribadian setiap warga negaranya. Unsur terkecil dari sebuah Negara adalah penduduknya. Akankah kita selalu menjadi Negara yang selalu tergantung oleh belas kasih Negara lain, dan selalu menunggu hibah atau pinjaman dari mereka?. Lihatlah Negara kecil nan mandiri yang akhirnya bisa menjadi Negara maju. Itulah singapura. Negara yang luasnya tak lebih dari pulau madura. Bagaimana dengan kita?.

Mulai kapan kita mengawalinya?. 10 tahun lagi? 20 tahun lagi? Atau ketika bibit mandiri itu sudah tidak lagi terlihat di bumi pertiwi tercinta ini?. Lalu kita pun mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengimpornya dari Negara lain?. Sohib, ulurkan tanganmu kepadaku. Kita bersama-sama menjadi pribadi yang mandiri.

Alhamdulillah aku sudah membuktikannya. Aku sudah memproklamirkan diriku sebagai pribadi yang merdeka secara financial. Aku bekerja, bisnis sambil kuliah. Alhamdulillah, semuanya lancar hingga saat ini. Dan jika anda membutuhkan contoh teman-teman lain yang sudah mandiri, aku siap memberi infonya. Di file otak ku terekam sekian banyak teman-teman yang sudah lepas dari orang tua dalam hal ekonomi.

Namun aku masih terus membuka tanganku agar kita bisa membentuk komunitas itu dan kita bisa bersama memikirkan pekerjaan-pekerjaan apa yang sekiranya bisa menghasilkan duit dan kita bisa mandiri. Sohib, sungguh, aku membuka diriku kepada siapapun anda agar kita bisa bekerja sama dalam hal apapun. Aku tidak tahu dengan siapa nanti aku akan bekerja sama, untuk itu datanglah padaku, aku akan tunjukkan padamu jalan yang telah kulalui agar kita kamu bisa mengambil pelajarannya. Kata orang bijak, pengalaman adalah guru terbaik, tetapi lebih bijak jika kita belajar dari pengalaman orang lain, agar kita tidak terjatuh di lubang yang sama.

Bagi anda semua yang siap (atau bahkan sudah menjalani) dengan “merdeka finansial”, dengan segala hormat, mohon hubungi aku lewat media apapun, HP, FS, dll. Kumohon. Aku tantang anda semua……..! berani?

Semoga 4JJI selalu melindungi setiap langkah kita.

Salam persahabatan, ghosty maboer

rintihanku….

Monday, December 3rd, 2007

Ya Allah, sungguh aku malu dihadapanMu

Di usiaku yang sejauh ini, aku masih seperti ini

Tidak banyak perubahan yang sudah kulakukan

Seolah-olah aku hidup hanya untuk diriku sendiri

Ya Allah, maafkan hambaMu yang belum berbuat apa-apa ini

Tuhan maafkan hambaMu yang tidak bisa apa-apa ini

Tuhan, malu sungguh aku malu Tuhan…….

Lalu masih pantaskah maafMu untukku,

setelah Kau beri aku mata, dan aku tidak mampu “melihat” bagaimana kondisi sekitarku….

Masih pantaskah maafMu untukku,

setelah kau beri aku mulut, tapi tak pernah ku sampaikan kebenaran, hanya dusta belaka

Tuhan pantaskah maafMu untukku,

setelah Kau beri aku tangan lalu aku tidak bekerja untuk agamaMu

Kau juga beri aku otak, tapi aku tidak pernah berpikir bagaimana kondisi keluargaku, sahabat-sahabatku, masyarakat sekelilingku, negaraku yang sudah sangat kacau seperti ini….

Kau juga beri aku kaki yang pada akhirnya aku langkahkan ke tempat-tempat maksiat…..

Kau juga beri aku telinga yang aku gunakan untuk mendengar fitnah…. Tuhan masih pantaskah aku hidup di dunia ini…..

tak perlu ku berharap SurgaMu…..

jauh ku untuk mendapatkannya……

hanya ridhoMu, itu yang ku perlukan

Tuhan berat kaki ini untuk melangkah, berat juga tanganku untuk bekerja….

Pikiranku hanya menerawang jauh sebuah kehidupan mewah teman-temanku

Begitu sombongnya aku, bersikap seolah-olah aku adalah mereka yang sudah mapan itu….

Padahal aku pun menyadari betapa ada Engkau Tuhan Yang Maha Kaya

Aku juga selalu iri dengan temanku yang pandai

Betapa aku telah melupakan engkau ya Allah Tuhan yang Maha Pandai, sumber dari segala ilmu

Waktuku pun habis untuk itu

Tanpa aku hiraukan betapa orang-orang dibelakangku menjerit memanggilku untuk datang padanya dan menyambut sebuah pertolonganku

Tuhan lalu aku bisa apa? Aku harus berbuat apa? Tangisan ini pun seakan tak berarti lagi di hadapanMu

Betapa bodohnya aku yang selalu tertawa setelah aku menangis

Lalu apa arti tangisan itu?

Tuhan ijinkanlah aku berjanji sekali lagi untuk bisa mengabdi padaMu

Tuhan aku akan berbuat yang terbaik dari apa yang aku bisa lakukan

Tuhan kan ku lakukan apa yang telah Kau amanahkan padaku

Tak kugunakan lagi egoku

tak lagi ku berkawan dengan khayalan-khayalan semu

Biarlah aku menjadi diriku sendiri

Tak akan lagi ku pedulikan orang lain

biarlah mereka kaya, biarlah mereka pandai

biarlah mereka ini, biarlah mereka itu….

Aku akan kembali ke jalanMu

untuk mengabdikan diri yang lemah dan tak berdaya ini

untukMu

sebagai sebuah pengharapan akan keridhoanMu, wahai Tuhanku

Tuhan Bantu aku mengusir “mereka“ dalam pikiranku ini

Tuhan, aku ingin menulis lagi

Biarlah aku menjadi diriku sendiri

Aku ingin menjadi diriku sendiri…..

Aku ingin menjadi diriku sendiri…

Aku ingin menjadi diriku sendiri…..

Aku ingin menjadi diriku sendiri….

Aku ingin menjadi diriku sendiri….

Aku ingin menjadi diriku sendiri…..

Aku ingin menjadi diriku sendiri….

Aku ingin menjadi diriku sendiri…..

Aku ingin menjadi diriku sendiri…..

Tiap langkahku adalah prestasi

Tiap gerakku adalah karya

Tiap tutur kataku adalah pesan

Tiap hembus nafasku adalah nilai

Tiap pandanganku adalah visi

tiap pikiranku adalah teladan

Tuhan jangan Kau butakan aku setelah aku dapat melihat

Jangan Kau tulikan aku setelah aku dapat mendengar

Jangan Kau lumpuhkan aku setelah aku dapat bergerak

Jangan Kau pincangkan aku setelah aku dapat melangkah

Jangan Kau bisukan aku setelah aku mampu bicara

Jangan Kau menjauh setelah aku dekat

Tuhan luluhkan hatiku untuk merasa

Bukakan mataku untuk melihat

Ringankan tanganku untuk bekerja

Tuntun kakiku untuk melangkah Bimbing mulutku untuk bertutur Ajarkan pikiranku untuk berpikir

Tuhan jauhkan aku dari segala hal yang bisa membuat Kau jauh dariku Dekatkan aku dengan semua hal yang mendekatkanku kepada Mu

Tuhan maafkan aku…………

Maafkan kedua orang tuaku…..

Terangi “dunia” ayahku dengan cintaku dan cintaMu

Cintai ibuku seperti ia mencintaiku

Maafkan semua saudaraku

Satukan kami semua dalam damai

jauh dari pertengkaran dan permusuhan

Maafkan semua keluargaku

Maafkan semua sahabat-sahabatku….

Pertemukan kami semua di surgaMu…

Amin….