Kedai motivasi 1
Menjadi pribadi mandiri
sohib, aku memiliki 2 orang teman yang sangat berbeda karakter. Aku ingin menyampaikan ini untuk dijadikan studi saja, tanpa bermaksud apa-apa. Temanku yang pertama, dia ini cowok perantauan yang kuliah di perguruan tinggi yang cukup ternama di Surabaya. Kamarnya begitu kotor, kumuh, pakaian kotor ataupun bersih campur aduk menjadi satu disana. Tidak ada ruang sedikit pun di kamar kosnya untuk kita merebahkan tubuh atau untuk belajar. Bau-bauan pun menyengat, mulai dari bau puntung rokok, keringat yang menempel dibaju, bau sisa makanan, apalagi kalau perut lagi sakit lalu menyebarlah angin-angin yang tak sedap. Andai ada penghargaan kamar terkotor, mungkin dia adalah sang jawara.
Pekerjaan sehari-harinya selain kuliah (itupun kalau sedang moody) adalah game, atau nonton TV di depan kamar kosnya (acara favoritnya adalah buser, dan sepak bola), makan ,tidur mandi, nyetel musik sekeras mungkin sambil menyanyikan lagu itu. Tidak jarang, tetangga kosnya protes ke temanku itu. Untung si tetangga itu masih terhitung pelit, sehingga tidak akan merelakan piringnya melayang ke pipi teman saya itu.
Menjadi kebiasaannya, bingung ketika uang kiriman orang tuanya terlambat datang. Hutang ke teman-teman kosnya sudah menumpuk, wajah seram bapak kos ketika menagih uang kos, belum lagi jeritan “cacing-cacing perut”nya, dll membayangi pikirannya. Baginya saat-saat seperti itu adalah saat dimana serasa ajal menjemputnya. Andai ia tidak berpikir tentang cintanya ke pacarnya, mungkin ia sudah bunuh diri.
Waktu demi waktu ia lalui dengan kegiatannya yang seperti itu-itu terus. Kuliah pun mengalir begitu saja. Tanpa ia berpikir bagaimana agar ia bisa lulus dengan sukses selain dengan cara DO (drop out) atau OD (out dhewe). Tak kaget jika ia harus turun beberapa angkatan. Lucu juga ketika ia harus duduk sekelas dengan adik angkatan yang ia bentak-bentak pada saat ospek. Begitu kerasnya ia meneriakkan kata-kata “disiplin”, “bodoh”, “kreatif”, dll, tetapi sementara ia sendiri…?
Lain ceritanya dengan satu temanku ini. Dia seorang cewek berjilbab. Wajah dan pembawaannya selalu ceria. Berpenampilan bersih, dan sejauh yang aku tahu, ia tidak pernah ada masalah dengan kuliahnya baik itu yang berhubungan dengan mata kuliah yang di ambil maupun dengan administrasi. Sepertinya ia berasal dari keluarga yang cukup berada, sederhana, namun harmonis.
Ia aktif sekali di kegiatan kampus. Tak bisa aku sebutkan satu persatu, namun yang jelas, dia mengikuti komunitas pengusaha muda di kampusnya itu. Ya, ia memang suka sekali dengan dunia bisnis. Segala hal yang sekiranya bisa menghasilkan uang, asalkan halal, akan ia lakukan. Bisnis yang ia geluti saat itu adalah event organizer. aku lupa apa namanya, namun yang jelas EO itu bergerak di bidang pendidikan. Ia sering mengadakan pameran buku, seminar, dll yang berhubungan dengan dunia pendidikan.
Karena kagum akan keaktifannya dikampus, maka aku mulai mendekati dia. (itulah kebiasaanku. Ketika aku melihat ada sosok hebat yang aku kagumi, aku berusaha untuk mendekati dia. Sekedar untuk belajar, bagaimana ia bisa menjalani itu semua, kuncinya untuk meraih kesuksesan, manajemen waktu, visi, dll. Atau bahkan saking penasarannya, biasanya aku juga melihat cara makannya, tidurnya, dan yang lebih jahil lagi, aku juga ingin tahu tentang keluarganya. Apa benar ia dilahirkan oleh seorang manusia, atau jangan-jangan ia manusia yang tiba-tiba turun dari langit). Dan Alhamdulillah ia mengijinkanku untuk bisa dekat dengannya.
Semakin aku dekat dengannya, semakin bertambah kekagumanku. Pernah satu hari kami mengikuti sebuah pelatihan bisnis di salah satu hotel yang cukup ternama di Batu Malang. Ada satu sesi yang berisi renungan yang diberi nama “who am I ?”. keahlian sang pembicara dalam mengelola kata-kata dan berorasi tak perlu diragukan lagi. Dalam sekejap sang pembicara bisa menyulap gedung yang berisi sekitar 2000 orang menjadi lautan air mata. Betapa tidak, kita diingatkan akan begitu besarnya jasa orang tua kita pada kita. Dan betapa rendahnya apresiasi kita pada mereka.
Semua orang menangis, termasuk aku. Namun, aku terus perhatikan ia yang duduk disebelahku, tidak menangis blas. Seusai sesi itu, kami duduk di taman hotel. aku bertanya kenapa. Ia tidak menjawab. aku terdiam sambil menunggu ia membuka pembicaraan.
Lalu tak lama ia menjawab, “buat apa aku menangis? Toh orang-orang yang seharusnya aku tangisi sudah tidak ada lagi di dunia ini..
“maksudmu orang tuamu?”
“ya” dia tertunduk dan diam sejenak. Sepertinya ia sedang menahan bendungan air mata yang sedari tadi mengintip di ujung matanya. Dan…. ia pun menangis.
Aku kaget bukan kepalang. Sumpah, aku baru menyadari sebuah jawaban kenapa ia tidak mau bercerita tentang keluarganya. Aku baru tahu bahwa kedua orang tuanya sudah tiada.
“aku benci kalian semua. Gus, asal kamu tahu, aku ikut acara renungan bukan sekali ini saja. Aku melihat semua teman-temanku menangis. Mereka juga berkomitmen mau berubah. Namun apa kenyataannya? seusai renungan, mereka tertawa, bahkan menertawakan tangisan mereka. Lalu buat apa berkomitmen hendak berbakti pada orang tua, dll, lalu apa arti tangisan itu?. Kalian sungguh beruntung, jika kalian berkomitmen ingin berbakti pada orang tua, kalian bisa menunjukkan bakti kalian itu dengan segera, tetapi aku? Dimana kuletakkan baktiku?. Lalu buat apa aku menangis?”
Sohib, sungguh sangat mengagumkanku ketika aku menyadari bahwa kerja kerasnya selama ini adalah sebuah perjuangannya agar bisa survive di dunia ini. Ia bekerja apapun untuk bisa mendapatkan uang agar ia bisa melanjutkan kuliahnya, agar ia bisa makan, beli pakaian, bayar uang kos, agar bisa ke dokter jika sakit, agar bisa nonton bioskop ketika ia sudah merasa jenuh, agar ia bisa beli bensin motornya, agar ia bisa beli pulsa, agar ia bisa beli buku, dll. Tak terasa air mataku pun jatuh merasakan betapa perihnya kehidupannya ini.
Aku merasa sangat tertampar. Sungguh keras sekali tamparan itu. “Lalu dimanakah wajah lelahmu teman? Tak bolehkah aku melihatnya?”. Tanyaku padanya.
“gus, buat apa menunjukkan muka memelas ke orang lain? apa kamu bisa menjamin orang itu bisa membantuku? Tak ada orang yang tahu latar belakangku”.
Sohib, ingin sekali aku melipat wajahku dan segera kusimpan di saku celanaku. Malu aku dihadapannya. Betapa tangguhnya wanita ini. Di uji dengan ujian seberat ini. Sohib, aku butuh bantuanmu untuk bersamaku mendoakan dia agar dia bisa meraih apa yang ia cita-citakan, selalu dalam lindungan Tuhan, dan bisa menginspirasi banyak orang.
Singkat cerita, satu hal yang aku pelajari dari temanku yang kedua ini adalah, betapa tangguhnya dia dalam menghadapi kehidupan. Dia berdiri di atas kakinya sendiri. Tak pernah ia merasa mengeluh sedikit pun karena baginya mengeluh itu tidak akan memberi keuntungan baginya. Pantang baginya untuk mundur dari ”arena permainan” dunia, walaupun mundur itu sendiri sepertinya menjadi pilihan yang sangat mudah untuk dijalankan.
Mandiri. Sepertinya kata ini menjadi momok bagi sebagian kita. Saat ini, nilai kemandirian sudah tak lagi menjadi pegangan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pernah aku bertanya ke temanku yang pertama tadi tentang harga sebuah kemandirian. Lalu ia menjawab “ah, hidup ini tidak perlu dibuat susah. Saat ini aku hanya menikmati masa mudaku yang nanti tidak akan bisa kembali lagi. Toh orang tuaku masih bisa membiayai aku”.
Aku lalu melanjutkan, “andai tiba-tiba orang tuamu meninggal?”
“ah kamu ini kok bicara yang nggak-nggak sih? Jangan doakan gitu dong!!”
Tak berani aku melanjutkan lagi. Biarlah pertanyaanku tadi menjadi pesan nilai yang aku sendiri tidak tahu kapan ia bisa menyadarinya. Tahun depankah?bulan depankah? Atau setelah ia bermain PS ini?.
Lalu sebuah pertanyaan aku lontarkan ke temanku yang kedua tentang masa muda. Ia menjawab dengan singkat dan jelas “lebih baik aku kehilangan masa mudaku daripada aku kehilangan masa depanku”. Sebuah jawaban seribu pesan.
Sohib, kita tidak akan pernah tahu, kapan orang tua yang selama ini menjadi “pegangan” kita, meninggal. Tidak ada jaminan di dunia ini. Namun satu hal yang pasti, Tuhan tidak pernah menutup mata, bagi siapa saja yang mau berusaha, Ia pasti akan membuka pintu berkah bagi orang itu. Seperti kata seorang trainer ketika saya mengikuti sebuah pelatihan, “Tuhan tidak pernah menjanjikan pelayaran yang indah, namun Tuhan menjanjikan pelabuhan yang indah”. Sohib, kita percaya Tuhan, bukan?. Kalau begitu, kita percaya janji Tuhan kan?. Semoga anda setuju dan sepemikiran dengan saya bahwa Tuhan itu tidak akan pernah berbohong. Lalu jika memang demikian, mengapa kita selalu takut?
Sohib, dengan segenap hati aku ingin mengajak sohib semua bersamaku, kita bangun sebuah komunitas orang-2 yang mandiri. Sudah cukup orang tua kita membiayai kita. Tak inginkah kita melihat mereka bekerja dan hasilnya untuk kebahagiaan mereka sendiri?. Mungkin kita saat ini belum berpenghasilan sehingga belum bisa memberi apa-apa ke orang tua kita, namun tidak adakah keinginan kita untuk bisa meringankan bebannya, barang Cuma sedikit saja?.
Sohib, aku pernah sharing cerita kehidupan temanku yang kedua ini ke satu sahabatku. Tidak lama, ia segera mengangkat handphonenya dan menekan satu nomer yang tak lain adalah mamanya.
“Ma, mulai bulan depan, mama jangan kirim uang ke aku lagi ya!. Aku tahu mama masih bisa membiayai aku. Tapi ijinkan aku untuk belajar mandiri” kurang lebihnya ia berkata seperti itu ke mamanya.
Lalu suara di balik speaker itu berkata, “tapi….”
“mama, aku tahu mama sayang aku. Beri aku waktu dan kesempatan untuk menjalaninya dulu. Aku akan melakukannya semaksimal mungkin. Dan percayalah, aku akan tetap kuliah dengan baik, dan aku tidak akan mengecawakan mama dan papa. Ma, makasih ya atas kebaikan mama selama ini, salam buat papa”.
Tidak ada sahutan dari balik speakernya. Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi, namun aku yakin mamanya sedang terbengong-bengong kebingungan memikirkan apa yang sedang terjadi pada anaknya tercinta itu.
Sohib, semoga kisah ini bisa menginspirasi kita semua agar bisa belajar mandiri. Aku harap bisa membuat banyak diantara kita yang dengan langsung dan segera menelpon orang tua kita dan mengikrarkan “kemandirian” kita.
Sohib, peradaban sebuah bangsa dibangun atas kepribadian setiap warga negaranya. Unsur terkecil dari sebuah Negara adalah penduduknya. Akankah kita selalu menjadi Negara yang selalu tergantung oleh belas kasih Negara lain, dan selalu menunggu hibah atau pinjaman dari mereka?. Lihatlah Negara kecil nan mandiri yang akhirnya bisa menjadi Negara maju. Itulah singapura. Negara yang luasnya tak lebih dari pulau madura. Bagaimana dengan kita?.
Mulai kapan kita mengawalinya?. 10 tahun lagi? 20 tahun lagi? Atau ketika bibit mandiri itu sudah tidak lagi terlihat di bumi pertiwi tercinta ini?. Lalu kita pun mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengimpornya dari Negara lain?. Sohib, ulurkan tanganmu kepadaku. Kita bersama-sama menjadi pribadi yang mandiri.
Alhamdulillah aku sudah membuktikannya. Aku sudah memproklamirkan diriku sebagai pribadi yang merdeka secara financial. Aku bekerja, bisnis sambil kuliah. Alhamdulillah, semuanya lancar hingga saat ini. Dan jika anda membutuhkan contoh teman-teman lain yang sudah mandiri, aku siap memberi infonya. Di file otak ku terekam sekian banyak teman-teman yang sudah lepas dari orang tua dalam hal ekonomi.
Namun aku masih terus membuka tanganku agar kita bisa membentuk komunitas itu dan kita bisa bersama memikirkan pekerjaan-pekerjaan apa yang sekiranya bisa menghasilkan duit dan kita bisa mandiri. Sohib, sungguh, aku membuka diriku kepada siapapun anda agar kita bisa bekerja sama dalam hal apapun. Aku tidak tahu dengan siapa nanti aku akan bekerja sama, untuk itu datanglah padaku, aku akan tunjukkan padamu jalan yang telah kulalui agar kita kamu bisa mengambil pelajarannya. Kata orang bijak, pengalaman adalah guru terbaik, tetapi lebih bijak jika kita belajar dari pengalaman orang lain, agar kita tidak terjatuh di lubang yang sama.
Bagi anda semua yang siap (atau bahkan sudah menjalani) dengan “merdeka finansial”, dengan segala hormat, mohon hubungi aku lewat media apapun, HP, FS, dll. Kumohon. Aku tantang anda semua……..! berani?
Semoga 4JJI selalu melindungi setiap langkah kita.
Salam persahabatan, ghosty maboer